Friday, May 7, 2010

ATMOSFER
1. Ciri-ciri Atmosfer
a. Pengertian Atmosfer
Atmosfer berasal dari bahasa yunani, yang terdiri dari 2 kata yaitu:
Atmos : Uap
Sphaira : Bulatan
Jadi , Atmosfer adalah lapisan udara yang terdiri dari bermacam-macam gas dan unsure yang menyelubungi bumi dari benda-benda luar angkasa.
Pada lapisan atmosfer terdapat tempat terjadinya peristiwa cuaca dan iklim.
Cuaca adalah Keadaan udara suatu daerah dipermukaan bumi yang sempit dalam waktu yang cepat/ bersifat sementara.
Ilmu yang mempelajari tentang cuaca dan atmosfer disebut Meteorologi.
Iklim adalah Keadaan Udara suatu daerah di permukaan bumi yang luas dalam waktu yang lama/ relative tetap.
Ilmu yang mempelajari tentang iklim disebut Klimatologi.
b. Komposisi Atmosfer
Lapisan atmosfer terdiri dari campuran gas yang tidak tampak dan tidak berwarna, yaitu:
a. Gas-gas tetap
Nitrogen : 78%
Oksigen : 21%
Argon : 0,93%
Karbondioksida : 0,03%
b. Gas-gas yang jumlahnya sedikit
Neon : 0,0015%
Helium : 0,00015%
Metana : 0,0002%
Krypton : 0,0001%
Hidrogen : 0,00005%
Xeron : 0,000005%
c. Gas-gas yang tidak tetap
Uap Air
Ozon
c. Lapisan Atmosfer
Lapisan Atmosfer ini memiliki ketebalan 1000 KM, yang terdiri dari 5 lapisan sebagai berikut:
a. Lapisan Troposfer
Ciri-ciri lapisan atmosfer:
1. Ketinggiannya antara 0-8 Km di daerah kutub dan 0-12 di daerah khatulistiwa.
2. Tempat terjadinya peristiwa cuaca.
3. Semakin keatas suhu semakin dingin. Setiap naik 100 m suhu berkurang 0,6°C
4. Unsure yang banyak terkandung di lapisan ini adalah unsure nitrogen dan oksigen
5. Lapisan troposfer dan lapisan stratosfer dipisahkan oleh lapisan tropopause.
b. Lapisan Stratosfer
Ciri-ciri Lapisan Stratosfer
a. Ketinggian rata-rata 12-50km
b. Bagian paling atas dari lapisan ini merupakan tempat konsentrasi ozon
c. Suhu udaranya hampir mencapai 0˚C, disebabkan karena
1. Dilapisan atasnya terdapat ozon
2. Lapisan ozon ini terdiri dari 3 atom oksigen yang mempunyai daya serap yang amat kuat terhadap radiasi ultraviolet dari matahari.
d. Lapisan stratosfer dan lapisan mesosfer dipisahkan oleh lapisan stratopause
c. Lapisan Mesosfer
Ciri-ciri lapisan Mesosfer:
1. Ketinggian 50-80km
2. Temperatur menurun secara tajam mencapai -85˚C
3. Banyak meteor yang terbakar dan terurai
4. Terdapat lapisan ozon
5. Lapisan mesosfer dan thermosfer dipisahkan oleh lapisan mesopause
d. Lapisan Thermosfer
Ciri-ciri lapisan thermosfer:
1. Ketinggian 80-500km
2. Suhu mencapai -120˚C
3. Tempat terjadinya peristiwa ionosfer (Proses perubahan atom menjadi ion-ion yang bermuatan listrik).
Lapisan ionosfer berfungsi:
a. Memantulkan gelombang radio yang dipancarkan
b. Menahan sebahagian radiasi matahari, sehingga tidak semua sampai kebumi.
e. Lapisan Eksosfer
Ciri-ciri lapisan eksosfer
• Ketinggian diatas 500 km
• Lapisan terluar yang menyelubungi bumi
• Merupakan ruang antar planet

2. Cuaca dan iklim
a. Cuaca dan iklim
Sifat cuaca:
1. Mudah berubah
2. Berlaku untuk waktu tertentu/terbatas
3. Meliputi daerah yang sempit
4. Merupakan hasil pencatatan atmosfer yang terbaru.

Sifat Iklim:
1. Relatif tetap
2. Berlaku untuk waktu yang lama
3. Meliputi daerah yang luas
4. Merupakan hasil rata-rata keadaan cuaca dan bukan hasil pencatatan yang terbaru.

b. Unsur-unsur cuaca dan iklim
1. Suhu udara
Suhu udara adalah keadaan panas dan dinginnya udara.
Tinggi rendahnya suhu dipengaruhi oleh beberapa factor:
a. Sudut sinar datang
Jika MT Tinggi (sudut sinar datang kecil) intensitas panasnya tinggi
Jika MT rendah (sudut sinar datang besar) intensitas panas rendah
Makin tegak sinar matahari udara makin panas.
b. Lamanya penyinaran
Pada musim panas di daerah sedang dan kutub temperaturnya tinggi.
Lama hari yang paling panjang.
Garis Lintang 0˚ 17˚ 41˚ 49˚ 63˚ 66,5˚ 67,2˚
Lama siang 12 J 13 J 15 J 16 J 20 J 24 J 1 Bl
c. Keadaan awan
Pada saat awan cerah suhu udara panas, sedangkan pada saat cuaca mendung (berawan) suhu udara lebih dingin.
d. Macam permukaan bumi ( relief)
Dipantai suhu udara panas dan makin tinggi tempat suhu makin dingin. Ketentuan itu dapat dibuat rumus:
Tx = To – 0,6 x h/100
Dimana,
Tx = Temperatur rata-rata suatu tempat (x) yang dicari
To = Temperatur suatu tempat yang sudah diketahui
H = Tinggi tempat (x)
e. Berbaliknya panas (inverse)
Sebab terjadinya inverse
1. Karena penyerapan sinar ultraviolet oleh lapisan ozon
2. Bertemunya massa udara panas dan dingin didaerah frontal (60˚-70˚ L)
3. Karena besarnya pancaran panas dari permukaan bumi.
f. Perbedaan letak lintang
Makin dekat dengan ekuator suhu udara lebih panas dan makin dekat dengan kutub suhu udara makin dingin.

Cara mengukur suhu udara
Suhu udara = suhu tertinggi + suhu terendah
2
Suhu tertinggi disebut suhu maksimum, sedangkan suhu terendah disebut suhu minimum. Suhu maksimum terjadi pada pukul 13.00 bukan 12.00. artinya suhu maksimum terjadi setelah matahari berada di atas kepala. Suhu terendah terjadi pada saat matahari terbit.
Selisih antara suhu tertinggi dan suhu terendah disebut amplitude

2. Tekanan udara
Tekanan udara disebut juga dengan kepadatan udara, karena udara memiliki berat, sehingga menimbulkan tekanan. Besar dan kecilnya tekanan udara diukur dengan barometer. Barometer yang dapat mencata sendiri disebut barograph. Besarnya tekanan udara di permukaan bumi adalah 76 cmHg atau 760 mmHg atau satu atmosfer.
Dalam meteorology, satuan yang digunakan untuk mengukur tekanan udara adalah milibar (mb). Tekanan udara 76 cmHg sama dengan 1.013 mb. Angka tersebut diperhitungkan dengan kerapatan air raksa pada temperature 0˚C, yaitu 13,6 dan percepatan gravitasi = 0,980265 maka
1 atmosfer =76 cmHg
= 76 x 13,6 x 0,980265
= 1.013,21
= 1.013 mb
Tekanan udara antara tempat yang satu dengan yang lain dimuka bumi berbeda-beda. Hal ini karena perbedaan pemanasan.

3. Angin
Buys Ballot seorang ahli ilmu cuaca dari Prancis, menyatakan bahwa:
1. Angin adalah udara yang bergerak karena adanya perbedaan tekanan
2. Udara bergerak dari daerah yang ber tekanan maksimum (dingin) ke daerah yang bertekanan minimum (panas)
3. Angin yang bergerak dari KU ke Eguator akan berbelok ke kanan
4. Angin yang bergerak dari KS ke Equator akan berbelok ke kiri

Kecepatan dan arah angin diukur dengan anemometer. Secara umum gerakan udara (Angin) dibedakan atas : adveksi, konveksi dan turbulensi.
Udara yang bergerak disebut dengan angin. Udara bergerak karena perbedaan tekanan udara. Alat untuk mengukur kecepatan angin dinamakan anemometer, sedangkan alat untuk mengetahui arah angin disebut panah angina tau kantong angin.
Angin dibedakan menjadi :
1. Angin Tetap adalah angin yang bertiup sepanjang tahun kearah yang tetap.
Cthnya :
• Angin pasat
• Angin anti pasat
• Angin barat
• Angin timur
2. Angin tetap / angin periodic
Contohnya :
• Angin Muson : Angin yang setiap ½ tahun bertiup kearah yang berlawanan.
• Angin darat / laut
• Angin lembah/gunung
• Angin local adalah angin yang hanya terjadi di daerah tertentu.

4. Kelembabapan Udara
Kelembaban udara adalah kandungan uap air dalam massa udara.
Alat untuk mengukur kelembaban udara adalah hygrometer dan juga dapat di ukur dengan psychrometer. Hygrometer yang dapat mencatat sendiri disebut higrograf.
Kelembaban udara dapat dibedakan menjadi 3:
a. Kelembaban spesifik yaitu banyaknya uap air yang terkandung dalam satu kilogram udara.
b. Kelembaban absolute (mutlak) atau densitas uap air dalam udara, yaitu banyaknya uap air dalam setiap 1 m3 udara, yang dinyatakan dalam gram/ m3
c. Kelmbaban relative (kelembaban nisbi) yaitu perbandingan jumlah uap air yang ada secara nyata (actual) dengan jumlah uap air secara maksimum yang mampu dikandung oleh setiap m3 udara dalam suhu yang sama. Kelembaban relative dinyatakan dengan (%)

RH = e x 100%
E
RH = Kelembaban nisbi dalam persen
e = Kandunganuap air hasil pengukuran secara langsung
E = Kemampuan maksimum udara dapat menampung uap air
Cat : Jika kelembaban relative telah mencapai 100% maka masa udara dinyatakan jenuh, artinya sudah tidak mampu lagi menerima / menampung uap air, sehingga terjadi kondensasi dan selanjutnya hujan.

5. Awan
Awan adalah masa udara dipermukaan bumi yang mengandung uap air. Awan akan bergerak keatas ketika mendapatkan sinar matahari. Berdasarkan ketinggiannya awan dapat dibagi menjadi:
a. Awan rendah (low clouds), mempunyai ketinggian dasar awan kurang dari 2 km, biasanya dipakai kata strato dan stratus.
b. Awan menengah (middle clouds), mempunyai ketinggian dasar awan antara 2 dan 6 km, biasanya diawali dengan kata alto.
c. Awan tinggi (high Clouds), mempunyai ketinggian dasarawan diatas 6 km, biasanya ditandai dengan awalan cirro atau cirrus.
d. Awan yang sangat dekat dengan permukaan bumi disebut kabut atau fog.
Berdasarkan bentuk dan cirilain awan dapat dibedakan menjadi:
a. Awan Cirrus yang bentuknya halus seperti kapas
b. Awan Cummulus bentuknya bergumpal-gumpal menyerupai bulu domba
c. Awan stratus berbentuk berlapis-lapis
d. Awan Nimbus warna kelabu merupakan sumber hujan.

Berdasarkan material pembentuknya awan dapat dibedakan menjadi:
a. Awan Cair adalah awan yang seluruhnya terdiri atas bahan cair
b. Awan es adalah awan yang seluruhnya terdiri atas Kristal-kristal es
c. Awan campuran adalah awan yang terdiri atas bahan cair dan Kristal es.

6. Massa Udara
Massa udara merupakan kumpulan udara pada daerah yang luas dan memiliki cirri-ciri sama, yaitu temperature dan kelembaban seragam. Massa udara dapat dibedakan berdasarkan lokasi dan temperature:
1. Berdasarkan Lokasinya
Berdasarkan lokasinya, massa udara dibedakan menjadi empat macam yaitu:
a. Massa udara polar (kutub) adalah massa udara polar yang berda di daerah kutub
b. Massa udara tropic adalah massa udara yang berada di daerah tropika
c. Massa udara continental adalah massa udara yang berada diatas daratan
d. Massa udara maritime adalah massa udara yang berada diatas lautan.
2. Berdasarkan temperature
Berdasarkan temperaturnya, massa udara dibedakan menjadi dua macam yaitu massa udara panas dan dingin
a. Massa udara panas adlah massa udara yang bertemperatur tinggi
b. Massa udara dingin adalah massa udara yang berteperatur rendah.

7. Curah Hujan
Curah hujan adalah banyaknya air hujan atau Kristal es yang jatuh hingga permukaan bumi. Alat yang digunakan untuk mengukur curah hujan disebut ombrometer.
Berdasarkan terjadinya hujan dapat diklasifikasikan menjadi:
a. Hujan Konveksi atau zenith
Terjadi didaerah khatulistiwa karena daerah ini paling intensif menyerap radiasi matahari, sehingga udara menjadi renggang, kemudian udara naik semakin tinggi semakin dingin dan terjadi kondensasi.
b. Hujan Orografis
Terjadi karena angin yang membawa uap air naik kepegunugnan, selanjutnya temperaturenya semmakin dingin dan terjadi kondensasi.
c. Hujan Frontal
Terjadi karena pertemuan massa udara panas yang banyak mengandung uap air dengan massa udara dingin, udara panas naik semakin tinggi terjadi kondensasi.
d. Hujan Siklon
Terjadi karena angin siklon membawa udara naik dan menjadi dingin sehingga terjadi kondensasi
e. Hujan musson
Terjadi karena bertiup angin musim barat membawa banyak uap air
f. Hujan Buatan
Terjadi karena ada proses perangsangan hujan, terutama pada awan cumulonimbus, yaitu mengumpulkan titik-titik air dengan jalan memberikan inti kondensasi yang berupa butir-butir garam, urea serta zat-zat kimia lainnya.

3. Persebaran Hujan di Indonesia
Pada bulan-bulan basah di Indonesia umumnya terjadi pada bulan November, Desember, januari, februari, maret dan april, sehingga disebut musim datangnya hujan atau musim penghujan, dipengaruhi oleh datangnya angin muson barat, wilayah Indonesia bagian barat umumnya mendapat curah hujan sangat tinggi, sedangkan bagian timur agak berkurang. Walaupun demikian di Indonesia tidak ada perbedaan yang jelas antara musim kemarau dengan musim penghujan.

4. Klasifikasi Iklim
Iklim didunia dapat diklasifikasikan berdasarkan hal-hal sbb:
a. Klasifikasi iklim berdasarkan letak lintang geografis disebut iklim matahari.
Berdasarkan letak lintangnya iklim dapat dibedakan menjadi 5 tipe.
1. Wilayah iklim Tropis adalah iklim yang terletak di antara 23½˚LU-23½˚LS. Cirinya suhu udara selalu tinggi dan curah hujan juga tinggi (banyak hujan)
2. Iklim subtropics adalah iklim yang terletak diantara 23½˚-35˚, baik dibelahan bumi utara maupun selatan cirinya tekanan udara selalu tinggi dan kering. Oleh karena itu, pada wilayah ini banyak dijumpai gurun pasir dan sabana.
3. Iklim sedang adalah iklim yang terletak diantara 35˚-66½˚LU dan LS. Cirinya daerah ini memiliki 4 musim yaitu panas, dingin, gugur dan semi.
4. Iklim Dingin atau kutub adalah iklim yang terletak di antara 66½˚-90˚LU dan LS. Cirinya, suhu udara sangat dingin.
b. Klasifikasi iklim menurut Koppen
Klasifikasi ini didasarkan atas curah hujan dan temperature. Iklim dibumi menjadi lima tipe:
1. Iklim A (Iklim hujan tropis)
2. Iklim B (Iklim kering/gurun)
3. Iklim C (Iklim sedang basah)
4. Iklim D ( Iklim Dingin)
5. Iklim E (Iklim Kutub)
c. Klasifikasi iklim menurut Schmidt dan Ferguson
d. Klasifikasi iklim menurut oldeman
e. Klasifikasi Iklim Fisis
Iklim fisis adalah berdasarkan fakta sesungguhnya di suatu wilayah muka bumi sebagai hasil pengaruh lingkungan alam yang terdapat di wilayah tersebut. Misalnya, pengaruh lautan, daratan yang luas, relief muka bumi, angin, dan curah hujan.
Iklim fisis terdiri atas:
1) Iklim laut (Maritim)
Iklim laut berada di daerah tropis dan sub tropis; dan daerah sedang. Keadaan iklim di kedua daerah tersebut sangat berbeda.

Ciri iklim laut di daerah tropis dan sub tropis sampai garis lintang 40°, adalah sebagai berikut:
a) Suhu rata-rata tahunan rendah;
b) Amplitudo suhu harian rendah/kecil;
c) Banyak awan, dan
d) Sering hujan lebat disertai badai.
Ciri-ciri iklim laut di daerah sedang, yaitu sebagai berikut:
a) Amplituda suhu harian dan tahunan kecil;
b) Banyak awan;
c) Banyak hujan di musim dingin dan umumnya hujan rintik-rintik;
d) Pergantian antara musim panas dan dingin terjadi tidak mendadak dan tiba-tiba.
2) Iklim Darat (Kontinen)
Iklim darat dibedakan di daerah tropis dan sub tropis, dan di daerah sedang. Ciri-ciri iklim darat di daerah tropis dan sub tropis sampai lintang 40(, yaitu sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu harian sangat besar sedang tahunannya kecil; dan
b) Curah hujan sedikit dengan waktu hujan sebentar disertai taufan.
Ciri iklim darat di daerah sedang, yaitu sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu tahunan besar;
b) Suhu rata-rata pada musim panas cukup tinggi dan pada musim dingin rendah; dan
c) Curah hujan sangat sedikit dan jatuh pada musim panas.

3) Iklim Dataran Tinggi
Iklim ini terdapat di dataran tinggi dengan ciri-ciri, adalah sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu harian dan tahunan besar;
b) Udara kering,
c) Lengas (kelembaban udara) nisbi sangat rendah; dan
d) Jarang turun hujan.

4) Iklim Gunung
Iklim gunung terdapat di dataran tinggi, seperti di Tibet dan Dekan. Ciri-cirinya, yaitu sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu lebih kecil dibandingkan iklim dataran tinggi;
b) Terdapat di daerah sedang;
c) Amplitudo suhu harian dan tahunan kecil;
d) Hujan banyak jatuh di lereng bagian depan dan sedikit di daerah bayangan hujan;
e) Kadang banyak turun salju.


5) Iklim Musim (Muson)

Iklim ini terdapat di daerah yang dilalui iklim musim yang berganti setiap setengah tahun. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a) Setengah tahun bertiup angin laut yang basah dan menimbulkan hujan;
b) Setengah tahun berikutnya bertiup angin barat yang kering dan akan menimbulkan musim kemarau.

Unsur-unsur iklim yang menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang sering dipakai adalah suhu dan curah hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunaannya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan. Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsur-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidang-bidang tersebut (Lakitan, 2002).
Thornthwaite (1933) dalam Tjasyono (2004) menyatakan bahwa tujuan klasifikasi iklim adalah menetapkan pembagian ringkas jenis iklim ditinjau dari segi unsur yang benar-benar aktif terutama presipitasi dan suhu. Unsur lain seperti angin, sinar matahari, atau perubahan tekanan ada kemungkinan merupakan unsur aktif untuk tujuan khusus.
Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, oleh sebab itu pengklasifikasian iklim di Indonesia sering ditekankan pada pemanfaatannya dalam kegiatan budidaya pertanian. Pada daerah tropik suhu udara jarang menjadi faktor pembatas kegiatan produksi pertanian, sedangkan ketersediaan air merupakan faktor yang paling menentukan dalam kegiatan budidaya pertanian khususnya budidaya padi.
Variasi suhu di kepulauan Indonesia tergantung pada ketinggian tempat (altitude/elevasi), suhu udara akan semakin rendah seiring dengan semakin tingginya ketinggian tempat dari permukaan laut. Suhu menurun sekitar 0.6 oC setiap 100 meter kenaikan ketinggian tempat. Keberadaan lautan disekitar kepulauan Indonesia ikut berperan dalam menekan gejolak perubahan suhu udara yang mungkin timbul (Lakitan, 2002). Menurut Hidayati (2001) karena Indonesia berada di wilayah tropis maka selisih suhu siang dan suhu malam hari lebih besar dari pada selisih suhu musiman (antara musim kemarau dan musim hujan), sedangkan di daerah sub tropis hingga kutub selisih suhu musim panas dan musim dingin lebih besar dari pada suhu harian. Kadaan suhu yang demikian tersebut membuat para ahli membagi klasifikasi suhu di Indonesia berdasarkan ketinggian tempat.
Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling beragam baik menurut waktu maupun tempat dan hujan juga merupakan faktor penentu serta faktor pembatas bagi kegiatan pertanian secara umum, oleh karena itu klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia (Asia Tenggara umumnya) seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai kriteria utama (Lakitan, 2002). Tjasyono (2004) mengungkapkan bahwa dengan adanya hubungan sistematik antara unsur iklim dengan pola tanam dunia telah melahirkan pemahaman baru tentang klasifikasi iklim, dimana dengan adanya korelasi antara tanaman dan unsur suhu atau presipitasi menyebabkan indeks suhu atau presipitasi dipakai sebagai kriteria dalam pengklasifikasian iklim.
Beberapa sistem klasifikasi iklim yang sampai sekarang masih digunakan dan pernah digunakan di Indonesia antara lain adalah:
a. Sistem Klasifikasi Koppen
Koppen membuat klasifikasi iklim berdasarkan perbedaan temperatur dan curah hujan. Koppen memperkenalkan lima kelompok utama iklim di muka bumi yang didasarkan kepada lima prinsip kelompok nabati (vegetasi). Kelima kelompok iklim ini dilambangkan dengan lima huruf besar dimana tipe iklim A adalah tipe iklim hujan tropik (tropical rainy climates), iklim B adalah tipe iklim kering (dry climates), iklim C adalah tipe iklim hujan suhu sedang (warm temperate rainy climates), iklim D adalah tipe iklim hutan bersalju dingin (cold snowy forest climates) dan iklim E adalah tipe iklim kutub (polar climates) (Safi’i, 1995).
b. Sistem Klasifikasi Mohr
Klasifikasi Mohr didasarkan pada hubungan antara penguapan dan besarnya curah hujan, dari hubungan ini didapatkan tiga jenis pembagian bulan dalam kurun waktu satu tahun dimana keadaan yang disebut bulan basah apabila curah hujan >100 mm per bulan, bulan lembab bila curah hujan bulan berkisar antara 100 – 60 mm dan bulan kering bila curah hujan < 60 mm per bulan (Anon, ?).
c. Sistem Klasifikasi Schmidt-Ferguson
Sistem iklim ini sangat terkenal di Indonesia. Menurut Irianto, dkk (2000) penyusunan peta iklim menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson lebih banyak digunakan untuk iklim hutan. Pengklasifikasian iklim menurut Schmidt-Ferguson ini didasarkan pada nisbah bulan basah dan bulan kering seperti kriteria bulan basah dan bulan kering klsifikasi iklim Mohr. Pencarian rata-rata bulan kering atau bulan basah (X) dalam klasifikasian iklim Schmidt-Ferguson dilakukan dengan membandingkan jumlah/frekwensi bulan kering atau bulan basah selama tahun pengamatan ( åf ) dengan banyaknya tahun pengamatan (n) (Anon, ? ; Safi’i, 1995).
Schmidt-Fergoson membagi tipe-tipe iklim dan jenis vegetasi yang tumbuh di tipe iklim tersebut adalah sebagai berikut; tipe iklim A (sangat basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim B (basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim C (agak basah) jenis vegetasinya adalah hutan dengan jenis tanaman yang mampu menggugurkan daunnya dimusim kemarau, tipe iklim D (sedang) jenis vegetasi adalah hutan musim, tipe iklim E (agak kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim F (kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim G (sangat kering) jenis vegetasinya padang ilalang dan tipe iklim H (ekstrim kering) jenis vegetasinya adalah padang ilalang (Syamsulbahri, 1987).
Table Klasifikasi Iklim Menurut Schmidt-Ferguson

d. Sistem Klasifikasi Oldeman
Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlansung secara berturut-turut.
Oldeman, et al (1980) mengungkapkan bahwa kebutuhan air untuk tanaman padi adalah 150 mm per bulan sedangkan untuk tanaman palawija adalah 70 mm/bulan, dengan asumsi bahwa peluang terjadinya hujan yang sama adalah 75% maka untuk mencukupi kebutuhan air tanaman padi 150 mm/bulan diperlukan curah hujan sebesar 220 mm/bulan, sedangkan untuk mencukupi kebutuhan air untuk tanaman palawija diperlukan curah hujan sebesar 120 mm/bulan, sehingga menurut Oldeman suatu bulan dikatakan bulan basah apabila mempunyai curah hujan bulanan lebih besar dari 200 mm dan dikatakan bulan kering apabila curah hujan bulanan lebih kecil dari 100 mm.
Lamanya periode pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis/varietas yang digunakan, sehingga periode 5 bulan basah berurutan dalan satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam. Jika lebih dari 9 bulan basah maka petani dapat melakukan 2 kali masa tanam. Jika kurang dari 3 bulan basah berurutan, maka tidak dapat membudidayakan padi tanpa irigasi tambahan (Tjasyono, 2004).
Oldeman membagi lima zona iklim dan lima sub zona iklim. Zona iklim merupakan pembagian dari banyaknya jumlah bulan basah berturut-turut yang terjadi dalam setahun. Sedangkan sub zona iklim merupakan banyaknya jumlah bulan kering berturut-turut dalam setahun. Pemberian nama Zone iklim berdasarkan huruf yaitu zone A, zone B, zone C, zone D dan zone E sedangkan pemberian nama sub zone berdasarkana angka yaitu sub 1, sub 2, sub 3 sub 4 dan sub 5.
Zone A dapat ditanami padi terus menerus sepanjang tahun. Zone B hanya dapat ditanami padi 2 periode dalam setahun. Zone C, dapat ditanami padi 2 kali panen dalam setahun, dimana penanaman padi yang jatuh saat curah hujan di bawah 200 mm per bulan dilakukan dengan sistem gogo rancah. Zone D, hanya dapat ditanami padi satu kali masa tanam. Zone E, penanaman padi tidak dianjurkan tanpa adanya irigasi yang baik. (Oldeman, et al., 1980)
5. Pemanasan Global (El Nino dan La Nina)

Sebagai suatu sistem yang dinamis, tanah akan selalu mengalami perubahan-perubahan yaitu perubahan segi fisik, kimia ataupun biologi tanahnya. Perubahan-perubahan ini terutama terjadi karena pengaruh berbagai unsur iklim, tetapi tidak sedikit pula yang dipercepat oleh tindakan atau perlakuan manusia. Kerusakan tubuh tanah mengakibatkan berlangsungnya perubahan-perubahan yang berlebihan misalnya kerusakan dengan lenyapnya lapisan olah tanah yang dikenal dengan erosi (Sutedjo, 2002).
Daerah yang paling banyak mengalami erosi umumnya terbatas pada daerah di antara 40o Lintang Utara dan 40o Lintang Selatan. Keadaan iklim menentukan kecendrungan terjadinya erosi yang mencerminkan keadaan pola hujan. Selain pola hujan, jenis dan pertumbuhan vegetasi serta jenis tanah juga mempengaruhi erosi di daerah tropis (Arsyad, 1989). Dalam buku yang sama, Arsyad (1989) juga mengatakan bahwa hujan merupakan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap erosi di indonesia, dimana besarnya curah hujan, intensitas dan distribusi hujan menentukan kekuatan dispersi hujan terhadap tanah, jumlah dan kecepatan aliran permukaan dan kerusakan erosi.
Keragaman hujan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh keberadaannya di garis katulistiwa, aktifitas moonson, bentangan samudera Pasifik dan Hindia serta bentuk topografi yang sangat beragam. Gangguan siklon tropis (El Nino-La Nina) diperkirakan juga ikut berpengaruh terhadap keragaman curah hujan (Boer, 2003).
El Nino-La Nina merupakan salah satu fenomena iklim yang diperkirakan terjadi akibat efek peningkatan gas rumah kaca. Kejadian El Nino-La Nina ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut (SPL) pada saat terjadinya EL Nino dan penurunan SPL saat terjadinya La Nina di daerah katulistiwa bagian tengah dan timur Samdera Pasifik. Kejadian El Nino-La Nina menyebabkan terjadinya peningkatan dan penurunan jumlah curah hujan di Indonesia. Menurut Irianto (2003) dampak dari fenomena El-Nino menyebabkan terjadinya penurunan jumlah curah hujan musim hujan, musim kemarau, awal musim kemarau lebih cepat dan awal musim hujan lebih lambat. Irianto, dkk (2000) juga mengungkapkan bahwa pada saat fenomena El-Nino terjadi, curah hujan untuk wilayah Pulau Jawa dan Nusa Tenggara mengalami penurunan jumlah hujan yang mencapai 60% dari rata-rata curah hujan normal. Berbeda dengan El-Nino, pada saat fenomena La-Nina berlangsung menurut Effendy (2001) akan meningkatkan jumlah curah hujan tahunan sekitar 50 mm dari curah hujan rata-rata normal, dimana saat bulan Desember, Januari dan Februari curah hujan meningkat sangat nyata. Irianto, dkk (2000) mengatakan bahwa pada saat fenomena La-Nina terjadi di Pulau Jawa curah hujan meningkat sampai 140%, sedangkan di Pulau Sumatra dan Kalimantan peningkatannya mencapai 120%. Berdasarkan penelitian As-syakur (2007) di kawasan Bedugul-Batukaru, fluktuasi Suhu Permukaan Laut (SPL) Samudera Pasifik berpengaruh terhadap besarmya jumlah curah hujan pada saat musim kemarau dan tidak berpengaruh terhadap besarnya jumlah curah hujan pada saat musim penghujan.
Peningkatan dan penurunan curah hujan pada saat El Nino-La Nina dipekirakan dapat mempengaruhi tingkat erosi tanah khususnya nilai erosi bulanan dan nilai erosivitas bulanan, sehingga perlu dilakukan kajian untuk mengetahui perbedaan tingkat erosi pada kondisi curah hujan rata-rata normal dan kondisi curah hujan saat kejadian El Nino-La Nina.
El-Nino, menurut sejarahnya adalah sebuah fenomena yang teramati oleh para penduduk atau nelayan Peru dan Ekuador yang tinggal di pantai sekitar Samudera Pasifik bagian timur menjelang hari natal (Desember). Fenomena yang teramati adalah meningkatnya suhu permukaan laut yang biasanya dingin. Fenomena ini mengakibatkan perairan yang tadinya subur dan kaya akan ikan (akibat adanya upwelling atau arus naik permukaan yang membawa banyak nutrien dari dasar) menjadi sebaliknya. Pemberian nama El-Nino pada fenomena ini disebabkan oleh karena kejadian ini seringkali terjadi pada bulan Desember. El-Nino (bahasa Spanyol) sendiri dapat diartikan sebagai “anak lelaki”. Di kemudian hari para ahli juga menemukan bahwa selain fenomena menghangatnya suhu permukaan laut, terjadi pula fenomena sebaliknya yaitu mendinginnya suhu permukaan laut akibat menguatnya upwelling. Kebalikan dari fenomena ini selanjutnya diberi nama La-Nina (juga bahasa Spanyol) yang berarti “anak perempuan” (oseanografi.blogspot.com., 2005). Fenomena ini memiliki periode 2-7 tahun..

El-Nino (gambar di atas) akan terjadi apabila perairan yang lebih panas di Pasifik tengah dan timur meningkatkan suhu dan kelembaban pada atmosfer yang berada di atasnya. Kejadian ini mendorong terjadinya pembentukan awan yang akan meningkatkan curah hujan di sekitar kawasan tersebut. Bagian barat Samudra Pasifik tekanan udara meningkat sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan awan di atas lautan bagian timur Indonesia, sehingga di beberapa wilayah Indonesia terjadi penurunan curah hujan yang jauh dari normal (gambar di bawah)

Suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur menjadi lebih tinggi dari biasa pada waktu-waktu tertentu, walaupun tidak selalu. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya fenomena La-Nina (gambar di bawah). Tekanan udara di kawasan equator Pasifik barat menurun, lebih ke barat dari keadaan normal, menyebabkan pembentukkan awan yang lebih dan hujan lebat di daerah sekitarnya


Kejadian El-Nino tidak terjadi secara tunggal tetapi berlangsung secara berurutan pasca atau pra La-Nina. Hasil kajian dari tahun 1900 sampai tahun 1998 menunjukan bahwa El-Nino telah terjadi sebanyak 23 kali (rata-rata 4 tahun sekali). La-Nina hanya 15 kali (rata-rata 6 tahun sekali). Dari 15 kali kejadian La-Nina, sekitar 12 kali (80%) terjadi berurutan dengan tahun El-Nino. La-Nina mengikuti El-Nino hanya terjadi 4 kali dari 15 kali kejadian sedangkan yang mendahului El-Nino 8 kali dari 15 kali kejadian. Secara umum, hal ini menunjukkan bahwa peluang terjadinya La-Nina setelah El-Nino tidak begitu besar. Kejadian El-Nino 1982/83 yang dikategorikan sebagai tahun kejadian El-Nino yang kuat tidak diikuti oleh La-Nina
“Masalah terbesar bukan tentang teknologi atau biaya, tetapi mengatasi hambatan politik, sosial dan perilaku dalam upaya mengurangi emisi (Bert Metz dan Detlef van Vuuren)”

Pada tulisan Pemanasan Global (Catatan mengenai sebabnya), ditulis beberapa teori tentang penyebab pemanasan global atau khususnya peningkatan gas rumah kaca, lebih khususnya lagi gas CO2 itu adalah manusia, aktivitas gunung api dan juga pemanasan permukaan laut. Dua sebab yang terakhir jelas kita ga bisa ngapa2in karena itu adalah proses alam. Kita cuman bisa pasrah dan berusaha cepat beradaptasi. Tapi klo yang disebabkan oleh manusia, kita masih masih bisa bertindak, karena itu adalah kita sendiri. Untuk pemanasan permukaan laut, sebagian ahli menganggap bahwa itu adalah efek domino dari pemanasan global. Tapi sampai sekarang belum diketahui mana yang duluan, pemanasan muka air laut atau peningkatan gas CO2. seperti pertanyaan mana yang lebih dulu telur atau ayam
Kita fokus kemanusianya aja dah, kan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2007 dah mengeluarkan maklumat klo kemungkinan manusia yang menyebabkan perubahan iklim itu sekitar 90% dimana penyebab utama terjadinya peningkatan Gas Rumah Kaca (GRK) seperti peningkatan gas Carbon Dioksida yang disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan penggunaan dari lahan hutan menjadi lahan yang bernilai ekonomi seperti pemukiman dan perkebunan, sedangkan peningkatan gas metan dan gas dinitrogen oksida disebabkan oleh aktivitas pertanian dan peternakan. Gas metan juga dihasilkan oleh pembusukan sampah. Jadi bisa dah kita simpulin klo peningkatan gas rumah kaca itu akibat kesalahan manusia dalam pengelolaan energi, hutan, pertanian, peternakan dan juga sampah.
Semua butuh energi, dan selama ini kita memanfaatkan energi yang tidak terbaharukan. Kesalahan pengelolaan energi oleh manusia dituduh sebagai penyebab utama peningkatan pemanasan global. Jadi energi ini harus dikelola dengan baik. Sumber energi utama dibumi adalah energi matahari. Tapi jarang sekali manusia yang memanfaatkan energi ini. Tumbuhan secara alami sudah memanfaatkannya melalui proses fotosintesis. Kenapa kita manusia tidak memanfaatkan energi matahari untuk kehidupan kita sehari2? kembali ke kata pembuka aja deh
Kota Freiburg di Jerman merupakan kota pelopor yang memanfaatkan energi matahari sebagai sumber listriknya. Sejak tahun 1986 kota ini membuat visi tentang pemanfaatan energi berorientasi ekologis dan dititik beratkan pada efisiensi energi dan pemanfaatan transportasi umum. Hasilnya adalah emisi CO2 berkurang sekitar 20% perkapita. 100% orang naik transportasi umum dan 35% warganya tidak memiliki mobil…. waooooowwww… pada tahun 1992 kota ini mengemisikan CO2 sekitar 2,073 juta ton dimana 1,660 juta ton dari sektor energi dan 0,413 juta ton dari transportasi. Pada tahun 2007 emisi CO2nya berkurang menjadi 1,787 juta ton atau turun 13,8% dimana dari sektor energi emisinya turun menjadi 1,394 juta ton (turun 16%) dan sektor transportasi turun menjadi 0,393 juta ton (turun 4,8%). Hebat bngat oieee…… gambar dibawh adalah bagaimana rumah2 di kota ini memanfaatkan panel fotovoltaik sebagai perangkap energi matahari dan grafik jumlah CO2 yang turun dari tahun 1992 (c40cities.org/bestpractices/energy/freiburg _ecocity.jsp).

Panel-panel Fotovoltaik

Grafik penurunan emisi CO2
Lain Freiburg di Jerman, lain juga Samso di Denmark. Pulau kecil di lepas pantai Denmark ini menggunakan energi listrik yang berasal dari turbin angin yang tersebar disepanjang horizon. 75% energi panasnya berasal dari energi surya dan bio-energi. Dan hasilnya emisi karbon berkurang 300 ribu ton dari tahun 1997 sampai 2003. mantap mennn…

Turbin angin di Samso Denmark
Perusahaan StatoilHydro yang berada di Sleipner barat memproduksi minyak mentah sekitar 60 ribu barrel minyak mentah dan 20,7 juta meter kubik gas alam setiap harinya. Minyak mentah dan gas alam merupakan salah satu sumber CO2. dan perusahan ini memerangkap kembali CO2 dengan menginjeksikan CO2 yang tidak terpakai kedalam formasi lapisan tanah sedalam 1000 m. Dan bayangkan, sebanyak 2.800 metrik ton CO2 yang diinjeksikan setiap harinya. Dan sampai saat ini sudah sekitar 10 juta ton CO2 yg diperangkap…

Injeksi CO2 kedalam formasi lapisan tanah
Hutan menyerap sekitar 1,3 giga ton CO2 pertahun dari luas hutan didunia sekitar 4 giga hektar. Dan seluruh hutan didunia ini menyimpan karbon sekitar 610 giga ton. Akan tetapi sekitar 10-30% total CO2 yang ada diudara merupakan hasil dari pembabatan hutan. Sesuatu yang ironis, dimana sumber penyerap CO2 dihancurkan untuk menambah CO2 diudara.
Di Kalimantan, hutan menyerap karbon sekitar 3 kgC/m2/thun. Dikurangin respirasi yang melepaskan karbon, maka penyerapan karbon bersihnya hanya sekitar 0,5 kgC/m2/thn. Sekarang dihitung sendiri dah… klo sekian hektar, berapa hutan akan mampu menyerap karbon… dan coba hubungkan dengan reboisasi… akan tetapi ada perbedaan kemampuan tanaman menyerap karbon di daerah tropis dan subtrpis. Di daerah tropis lebih besar kemampuannya karena cahaya matahari yang terus ada sepanjang tahun. Dibawah adalah sebaran secara global penyerapan karbon bersih oleh tanaman

Sebaran global penyerapan karbon bersih oleh tanaman
Kemampuan tanaman hutan dan tanaman pertanian menyerap carbon sebenarnya hampir mirip, akan tetapi yang membedakan tanaman pertanian dan tanaman hutan adalah kemampuan mereka dalam menyimpan karbon. Tanaman pertanian seperti jagung akan menyimpan karbon selama hidupnya. Pembakaran tanaman jagung dalam proses pembersihan ladang akhirnya memunculkan masalah dalam penyumbangan karbon ke atmosfer oleh tanaman pertanian. Berbeda dengan tanaman hutan yang hidup cukup lama. Penyimpanan karbon akan berlangsung lebih lama karena umur yang panjang dan proses dekomposisi yang lambat yang bahkan bisa mencapai 300 tahun agar karbon yang diserap kembali lagi keudara.
Kota mempunyai penduduk yang bnyak, oleh karena itulah kota sangat boros energi. Mengembangkan kota yang ramah lingkungan akan memberikan dampak bagi pengurangan emisi gas rumah kaca. Desain kota hijau (sebuah angan2 untuk indonesia), misalnya dengan memasang panel2 fotovoltaik di perkantoran, desain bagunan yang memanfaatkan cahaya alami sehingga tidak membutuhkan bnyak energi listrik, pemusatan kegiatan sehingga penduduk tidak menyebar yang akan mengurangi pemanfaatan listrik dan transportasi, dan lain sebagainya

Kota Hijau - Kota Kiev Ukraina
Pemanasan global sudah terjadi, CO2 di udara berdasarkan hasil pengamatan di Muana Loa, Hawaii pada bulan maret 2009 telah mencapai 387,24 ppm. masa ampun dah… tinggi bangat tuh kandungan CO2 atmosfer kita… Ga bisa dicegah dalam waktu yang sesaat untuk menurunkannya, semua butuh proses. Untuk kita perlu beradaptasi dalam menghadapi perubahan ini. Ada bnyak cara misalnya dengan mempersiapkan diri dalam menghadapi cuaca ekstrim, jaga kesehatan karena penyakit tropis dah semakin bnyak, membiasakan diri dalam penggunaan energi dan air dengan efisien, cari tau prakiraan cuaca dan lain2nya…
Iklim adalah rata - rata dari pergantian atau keadaan Cuaca dalam wilayah yang luas dan jangka waktu yang lama (perhitungan jangka waktu ± 30 tahun). Terjadinya iklim yang bermacam-macam di muka bumi, disebabkan oleh rotasi dan revolusi bumi berdasar letak lintang dan ketinggian suatu tempat (Keadaan ini menyebabkan suhu udara di wilayah lintang rendah atau wilayah khatulistiwa lebih panas dibanding wilayah lintang tinggi atau wilayah kutub).
Iklim matahari
Klasifikasi iklim matahari, didasarkan pada banyak sedikitnya sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi. Tempat-tempat yang lintangnya tinggi lebih sedikit daripada tempat-tempat yang lintangnya rendah. Berdasarkan iklim matahari, bumi dibagi menjadi empat daerah iklim, yaitu sebagai berikut:
1. Daerah iklim tropis (panas) : 0° – 23,5° Lintang Utara (LU) / Lintang Selatan (LS)
2. Daerah iklim sub tropis : 23,5° – 40° LU/LS
3. Daerah iklim sedang : 40° – 66,5° LU/LS
4. Daerah iklim dingin : 66,5° – 90° LU/LS
[sunting] Iklim Koppen
Pengelompokan iklim Koppen berdasarkan indikator vegetasi. Artinya, vegetasi merupakan tanda atau indikator dari kondisi iklimnya. Koppen membagi iklim dunia menjadi iklim A, B, C, D, dan E.
[sunting] Iklim Tipe A (Iklim Tropis)
Iklim hujan tropis dengan suhu udara pada bulan - bulan terdinginnya mencapai lebih dari 18° C (64,4° Fahrenheit). Indikator vegetasinya adalah adanya tumbuhan yang peka terhadap suhu tinggi (megatherma) seperti berbagai jenis palma (kelapa, nipah dan lain-lain). Subregion dari iklim A adalah iklim Af, Aw, Am, Aw', Aw", As. Ketiga iklim pertama yaitu Af, Am, dan Aw lebih sering muncul, sehingga dalam pembahasan diarahkan pada ketiga subregion iklim tersebut.
1. Iklim Af
tipe iklim tropik basah (Tropical wet climate) dengan endapan hujan pada bulan - bulan terkering sekurang-kurangnya 60 milimeter (2,4 inchi).
2. Tipe iklim Aw
tipe iklim basah tropik (tropical wet and dry climate). Ciri tipe iklim ini adalah memiliki curah hujan di bawah 60 milimeter sekurang-kurangnya satu bulan.
3. Tipe iklim Am
tipe iklim basah tropis dengan musim kering yang singkat (tropical wet with short dry climate). Ciri tipe iklim ini adalah memiliki kesamaan dengan Af dalam jumlah endapan hujannya tetapi penyebaran musimnya menyerupai Aw. Endapan hujan pada tipe iklim Am di bawah 60 mm dalam bulan - bulan terkering.
[sunting] Iklim Tipe B (Iklim Kering)
Ciri Iklim tipe B adalah penguapan tinggi dengan curah hujan rendah (rata-rata 25,5 mm/tahun) sehingga sepanjang tahun penguapan lebih besar daripada curah hujan. Tidak terdapat surplus air. Di wilayah beriklim tipe B tidak terdapat sungai yang permanen. Wilayah beriklim tipe B dibedakan menjadi,
1. Tipe Iklim Bs (iklim stepa)
2. Tipe Iklim Bw (iklim gurun)
[sunting] Iklim Tipe C (Iklim Sedang Hangat)
Iklim tipe C mengalami empat musim, yaitu musim dingin, semi, gugur, dan panas. Suhu udara rata-rata bulan terdingin adalah (–3)°C – (–8)°C. Terdapat paling sedikit satu bulan yang bersuhu udara rata-rata 10° C. Iklim tipe C dibedakan menjadi tiga,
1. Tipe Iklikm Cw
Iklim sedang basah (humid mesothermal) dengan musim dingin yang kering.
2. Tipe Iklim Cs
Iklim sedang basah dengan musim panas yang kering.
3. Tipe Iklim Cf
Iklim sedang basah dengan hujan dalam semua bulan.
[sunting] Iklim Tipe D (Iklim Salju Dingin)
Iklim tipe D merupakan iklim hutan salju dengan suhu udara rata-rata bulan terdingin < –3° C dan suhu udara rata-rata bulan terpanas > 10° C. Iklim tipe D dibedakan menjadi dua:
1. Tipe Iklim Df
Iklim hutan salju dingin dengan semua bulan lembab.
2. Tipe Iklim Dw
Iklim hutan salju dingin dengan musim dingin yang kering.
[sunting] Iklim Tipe E (Iklim Kutub)
Wilayah beriklim tipe E mempunyai ciri tidak mengenal musim panas, terdapat salju abadi dan padang lumut. Suhu udara tidak pernah melebihi 10° C. Wilayah beriklim tipe E dibedakan atas,
1. Tipe Iklim Et (iklim tundra)
2. Tipe Iklim Ef (iklim kutub dengan salju abadi).
Iklim tipe E terdapat di daerah Arktik dan Antartika.
________________________________________
Berdasarkan klasifikasi Koppen, sebagian besar wilayah Indonesia beriklim A, di daerah pegunungan beriklim C, dan di Puncak Jaya Wijaya beriklim E. Tipe iklim A dibagi menjadi tiga sub tipe yang ditandai dengan huruf kecil yaitu f, w dan m sehingga terbentuk tipe iklim Af, Aw, dan Am.
________________________________________
Pembagian iklim Koppen secara rinci, adalah sebagai berikut,
• Af = iklim hujan tropic
• Aw = Iklim savana tropic
• BS = iklim stepa
• BW = iklim gurun
• Cf = iklim hujan sedang, panas tanpa musim kering
• Cw = iklim hujan sedang, panas dengan musim dingin kering
• Cs = iklim hutan sedang, panas dengan musim panas yang kering
• Df = iklim hutan salju tanpa musim kering
• Dw = iklim hutan salju dengan musim dingin yang kering
• Et = iklim tundra
• Ef = iklim salju

[sunting] Iklim Schmidt – Fergusson
Cara perhitungan pembagian iklim menurut Schmidt-Ferguson berdasarkan perhitungan jumlah bulan-bulan terkering dan bulan-bulan basah setiap tahun, kemudian dirata-ratakan. Untuk menentukan bulan basah dan bulan kering menggunakan metode Mohr. Menurut Mohr, suatu bulan dikatakan:
1. Bulan kering
bulan-bulan yang curah hujannya kurang dari 60 mm;
2. Bulan basah
Bulan-bulan yang curah hujannya lebih dari 100 mm;
3. Bulan lembab
Bulan-bulan yang curah hujannya antara 60 - 100 mm;
Berdasarkan klasifikasi tersebut, ditentukanlah jumlah bulan kering dan bulan basah selama kurun waktu tertentu (Schmidt-Ferguson menggunakan data iklim selama 10 tahun atau lebih). Hasil pembagian antara jumlah bulan kering (fd) dengan jumlah tahun data (T) menghasilkan rata-rata bulan kering (Md) dan hasil pembagian antara jumlah bulan basah (fw) dengan jumlah tahun data (T) menghasilkan rata-rata bulan basah (Mw). Hasil bagi antara rata-rata bulan kering dengan rata-rata bulan basah dikalikan dengan 100 persen menghasilkan nilai Q. Nilai Q inilah yang menentukan tipe iklimnya, apakah termasuk tipe iklim A, B, C, D, E, F, G, atau H. Dari hasil analisisnya, Schmidt-Ferguson membagi tipe iklim menjadi delapan tipe iklim dengan lambang huruf dari A sampai dengan H. Pembagian tersebut menggunakan batas tipe iklim dari hasil perhitungan Q. Nilai Q dan tipe iklimnya adalah seperti pada tabel,
Nilai Q (%) Tipe Iklim
0 < Q < 14,3 Tipe iklim A
14,3 < Q < 33,3 Tipe iklim B
33 < Q < 60 Tipe iklim C
60 < Q < 100 Tipe iklim D
100 < Q < 167 Tipe iklim E
167 < Q < 300 Tipe iklim F
300 < Q < 700 Tipe iklim G
700 < Q Tipe iklim H

[sunting] Iklim Oldeman
Penentuan iklim menurut Oldeman menggunakan dasar yang sama dengan penentuan iklim menurut Schmidt-Ferguson, yaitu unsur curah hujan. Bulan basah dan bulan kering dikaitkan dengan kegiatan pertanian di daerah tertentu sehingga penggolongan iklimnya disebut juga zona agroklimat. Misal, jumlah curah hujan sebesar 200 mm tiap bulan dipandang cukup untuk membudidayakan padi sawah. Sedang untuk membudidayakan palawija, jumlah curah hujan minimal yang diperlukan adalah 100 mm tiap bulan. Selain itu, musim hujan selama 5 bulan dianggap cukup untuk membudidayakan padi sawah selama satu musim. Dalam metode ini, dasar penentuan bulan basah, bulan lembab, dan bulan kering,
1. Bulan basah, apabila curah hujannya > 200 mm.
2. Bulan lembab, apabila curah hujannya 100–200 mm.
3. Bulan kering, apabila curah hujannya < 100 mm.
Berdasarkan bulan basah, Oldeman menentukan lima klasifikasi iklim atau daerah agroklimat utama seperti pada tabel,
Tipe Iklim Kriteria
A > 9 bulan basah berurutan
B1 7 – 9 bulan basah berurutan dan satu bulan kering
B2 7 – 9 bulan basah berurutan dan 2 - 4 bulan kering
C1 5 – 6 bulan basah berurutan dan satu bulan kering
C2 5 – 6 bulan basah berurutan dan 2 - 4 bulan kering
C3 5 – 6 bulan basah berurutan dan 5 - 6 bulan kering
D1 3 – 4 bulan basah berurutan dan satu bulan kering
D2 3 – 4 bulan basah berurutan dan 2 - 4 bulan kering
D3 3 – 4 bulan basah berurutan dan 5 - 6 bulan kering
D4 3 – 4 bulan basah berurutan dan lebih dari 6 bulan kering
E1 < 3 bulan basah berurutan dan kurang dari 2 bulan kering
E2 < 3 bulan basah berurutan dan 2 - 4 bulan kering
E3 < 3 bulan basah berurutan dan 5 - 6 bulan kering
E4 < 3 bulan basah berurutan dan lebih dari 6 bulan kering
[sunting] Iklim Junghun
F. Junghuhn mengklasifikasikan iklim berdasarkan ketinggian tempat secara vertikal dan mengaitkan iklim dengan jenis tanaman yang tumbuh dan berproduksi optimal sesuai suhu di habitatnya. Junghuhn mengklasifikasikan iklim menjadi empat,
1. Daerah panas atau tropis
Tinggi tempat : 0 - 600 m di atas permukaan laut.
Suhu : 26,3 °C – 22 °C.
Tanaman : padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet, kelapa, coklat.
2. Daerah sedang
Tinggi tempat : 600 m - 1500 m di atas permukaan laut.
Suhu : 22 °C - 17,1 °C.
Tanaman : padi, tembakau, teh, kopi, coklat, kina, sayur-sayuran.
3. Daerah sejuk
Tinggi tempat : 1500 - 2500 m di atas permukaan laut.
Suhu : 17,1 °C - 11,1 °C.
Tanaman : kopi, teh, kina, sayur-sayuran.
4. Daerah dingin
Tinggi tempat : lebih dari 2500 m di atas permukaan laut.
Suhu : 11,1 °C - 6,2 °C.
Tanaman : Tidak ada tanaman budidaya.



Kalo mau nyari dasar teori, Hardy (2003. Climate Change: Causes, effects and solutions) mengatakan bahwa untuk mengurangi dampak perubahan iklim dapat melakukan hal2 sebagai berikut: Memerangkap emisi karbon, mengurangi pemanasan global atau efeknya dengan menggunakan geoengineering, meningkatkan carbon sink alami, mengkonversi karbon bebas dengan menggunakan energi terbaharukan, menghemat energi dan menggunakannya lebih efisien, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Wladimir Koppen membuat klasifikasi iklim seluruh dunia berdasarkan suhu dan kelembaban udara. Kedua unsur iklim tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap permukaan bumi dan kehidupan di atasnya. Berdasarkan ketentuan itu Koppen membagi iklim dalam lima daerah iklim pokok. Masing-masing daerah iklim diberi simbol A, B, C, D, dan E.
Iklim A atau iklim tropis. Cirinya adalah sebagai berikut:
• suhu rata-rata bulanan tidak kurang dari 18°C,
• suhu rata-rata tahunan 20°C-25°C,
• curah hujan rata-rata lebih dari 70 cm/tahun, dan
• tumbuhan yang tumbuh beraneka ragam.
Iklim B atau iklim gurun tropis atau iklim kering, dengan ciri sebagai berikut:
• Terdapat di daerah gurun dan daerah semiarid (steppa);
• Curah hujan terendah kurang dari 25,4/tahun, dan penguapan besar;
Iklim C atau iklim sedang. Ciri-cirinya adalah suhu rata-rata bulan terdingin antara 18° sampai -3°C.
Iklim D atau iklim salju atau microthermal. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut: Rata-rata bulan terpanas lebih dari 10°C, sedangkan suhu rata-rata bulan terdingin kurang dari - 3°C.
Iklim E atau iklim kutub . Cirinya yaitu terdapat di daerah Artik dan Antartika, suhu tidak pernah lebih dari 10°C, sedangkan suhu rata-rata bulan terdingin kurang dari - 3°C.
Schmidt Ferguson menggolongkan iklim didasarkan banyaknya curah hujan tiap-tiap bulan dengan membandingkan jumlah bulan kering dengan jumlah bulan basah dalam satu tahun. Oleh sebab itu menurutnya, bahwa iklim dibagi menjadi dua golongan, yaitu sebagai berikut: Bulan kering (BK), yaitu curah hujan yang sampai ke permukaan bumi kurang dari 60 mm; Bulan basah (BB), yaitu curah hujan yang sampai kepermukaan bumi lebih dari 60 mm.
Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlansung secara berturut-turut.Oldeman membagi lima zona iklim dan lima sub zona iklim. Zona iklim merupakan pembagian dari banyaknya jumlah bulan basah berturut-turut yang terjadi dalam setahun. Sedangkan sub zona iklim merupakan banyaknya jumlah bulan kering berturut-turut dalam setahun. Pemberian nama Zone iklim berdasarkan huruf yaitu zone A, zone B, zone C, zone D dan zone E sedangkan pemberian nama sub zone berdasarkana angka yaitu sub 1, sub 2, sub 3 sub 4 dan sub 5."

Mengenal Iklim Indonesia
Ditulis oleh kadarsah di/pada November 30, 2007
Iklim adalah rata-rata cuaca dalam periode yang panjang. Sedangkan cuaca merupakan keadaan atmosfer pada suatu saat. Ilmu yang mempelajari iklim adalah klimatologi. Meteorologi mempelajari proses fisis dan gejala cuaca yang terjadi didalam atmosfer terutama pada lapisan bawah (troposfer).
Klimatologi berasala dari bahasa Yunani klima dan logos. Klima berarti kemiringan bumi yang terfokus pada pengertian lintang tempat. Logos berarti ilmu.
Meteorologi berasal dari bahasa Yunani, meteoros dan logos. Meteoros berarti benda yang ada didalam udara.
Pembagian klimatologi berdasarkan cakupan daerah kajian:
1. Makroklimatologi : ukuran global
2. Mesoklimatologi : ukuran 10-100 km
3. Mikroklimatologi : ukuran kurang dari 100 m
Sistem iklim terdiri komponen:
1. atmosfer atau udara
2. litosfer atau batuan
3. hidrosfer terdiri dari cair atau air
4. kriosfer tediri dari es,salju dan gletser.
5. biosfer terdiri tumbuhan dan mahluk hidup.
Di permukaan bumi banyak sekali macam iklim, untuk menyederhanakan maka dilakukan upaya pengelompokan iklim.
Pengelompokan iklim berdasarkan pendekatan:
1. metode genetik : penentu faktor iklim yaitu pola sirkulasi udara, radiasi bersih dan fluks kelembaban.
2. metode generik ( empirik).: unsur iklim yang diamati atau efeknya terhadap gejala lain, contohnya manusia atau tumbuhan.
Mayoritas pengelompokan iklim menggunakan metode genetik sekitar 10 % sisanya berdasarkan metode empirik.
Metode Genetik digunakan oleh:
1. H.Flohn (1950) berdasarkan : sabuk angin global dan ciri curahan
2. Strahler (1969) berdasarkan: massa udara yang dominan dan ciri curahan.
3. Budyko (1956) berdasarkan: neraca energi ( indeks radiasi kekeringan).
Metode empirik:
1. Koppen (1900) berdasarkan hubungan iklim dengan tumbuhan dengan kriteria numerik digunakan untuk menentukan jenis dan unsur iklim.
2. Thornthwaite berdasarkan evapotranspirasi dan curah hujan.
3. Miller berdasarkan suhu dan curah hujan.
4. Schmidt & Ferguson (1951) berdasarkan curah hujan untuk menentukan jumlah bulan kering dan bulan basah.
5. Oldeman (1975) berdasarkan curah hujan yang difokuskan pada bidang pertanian
6. Mohr berdasarkan tingkat kelembaban dengan menyertakan pengaruh curah hujan
7. Miller berdasarkan suhu dan curah hujan
Jenis Iklim Flohn (1950):
Jenis Iklim Karakteristik Curah Hujan
I Katulistiwa Barat Basah
II Tropis Hujan musim panas
III Kering subtropics Kering sepanjang tahun
IV Hujan musim dingin Hujan musim dingin
V Ekstra tropis barat Curahan sepanjang tahun
VI Subpolar Curahan sepanjang tahun tetapi terbatas
VIa Sub Benua Boreal Curahan musim panas terbatas, curahan musim dingin kurang
VII Polar Tinggi Curahan kurang sekali,salju turun awal musim dingin, curahan musim panas
Jenis Iklim Strahler (1969)
Jenis Iklim Faktor penentu iklim
I Iklim lintang rendah Massa udara katulistiwa dan tropis
a Khatulistiwa basah
b Pantai angin pasat
c Gurun dan stepa tropis
d Gurun pantai barat
e Kering-basah tropis
II Iklim lintang menengah Massa udara polar dan tropis
a Subtropis lembab
b Pantai barat laut
c Mediterania
d Gurun dan stepa lintang menengah
e Benua lembab
III Iklim lintang tinggi Massa udara polar dan artik
Subartik benua
Subartik laut
tundra
IV Iklim daratan tinggi Ketinggian sebagai penentu iklim

Jenis Iklim Budyko (1956)
Jenis Iklim Nilai indeks kekeringan
I Gurun > 3
II Separuh gurun 2-3
III Stepa 1-2
IV Hutan 0.33-11
V Tundra <0.33
Jenis Iklim Koppen (Dr Wladimir Koppen ahli ilmu iklim dari Jerman, 1918)
Koppen membuat klasifikasi iklim seluruh dunia berdasarkan suhu dan kelembaban udara. Kedua unsur iklim tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap permukaan bumi dan kehidupan di atasnya. Berdasarkan ketentuan itu Koppen membagi iklim dalam lima daerah iklim pokok. Masing-masing daerah iklim diberi simbol A, B, C, D, dan E.
Lambang Jenis Iklim
A Iklim Hujan Tropis
Af Iklim hutan hujan tropis
Aw Iklim savanna
Am Iklim monsoon tropis
B Iklim kering
BSh Iklim stepa kering
BSk Iklim stepa sejuk
BWh Iklim gurun terik
BWk Iklim gurun sejuk
C Iklim Hujan Sedang Panas
Cfa Kelembaban sepanjang musim, musim panas terik
Cfb Kelembaban sepanjang musim, musim panas panas
Cfc Kelembaban sepanjang musim, musim panas pendek, sejuk
Cwa Hujan musim panas,musim panas terik
Cwb Hujan musim panas,musim panas panas
Csa Hujan musim dingin,musim panas terik
Csb Hujan musim dingin,musim panas panas
D Iklim Hutan Salju Sejuk
Dfa Kelembaban sepanjang musim, musim panas terik
Dfb Kelembaban sepanjang musim, musim panas panas
Dfc Kelembaban sepanjang musim, musim panas pendek, sejuk
Dfd Kelembaban sepanjang musim, musim dingin dingin luar biasa
Dwa Hujan musim panas,musim panas terik
Dwb Hujan musim panas,musim panas panas
Dwc Hujan musim dingin,musim panas terik
Dwd Kelembaban sepanjang musim, musim dingin dingin luar biasa
E Iklim Kutub
ET Tundra
EF Salju dan es abadi

Menurut Koppen di Indonesia terdapat tipe-tipe iklim Af, Aw, Am, C, dan D.
• Af dan Am = terdapat di daerah Indonesia bagian barat, tengah, dan utara, seperti Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi Utara.
• Aw = terdapat di Indonesia yang letaknya dekat dengan benua Australia seperti daerah-daerah di Nusa Tenggara, Kepulauan Aru, dan Irian Jaya pantai selatan.
• C = terdapat di hutan-hutan daerah pegunungan.
• D = terdapat di pegunungan salju Irian Jaya.
Kriteria utama iklim A,B,C,D,E
Jenis Iklim Ciri-ciri iklim
A Suhu rata-rata bulan terdingin minimal 18゜C, curah hujan tahunan > evapotranspirasi tahunan.
B Evapotranspirasi potensial tahunan rata-rata > curahan tahunan rata-rata. Tidak ada kelebihan air.
C Suhu rata-rata bulan terdingin -3 s.d 18゜C . Bulan terpanas > 10 ゜C.
D Suhu rata-rata bulan terdingin < 10 ゜C, bulan terpanas >10 ゜C.
E Suhu rata-rata bulan terpanas < 10 ゜C, untuk daerah tundra 0 s.d 10 ゜C, untuk daerah salju abadi < 10゜C.
Kriteria tambahan Iklim Koppen
Jenis Iklim Ciri-ciri iklim
f Tidak ada musim kering,basah sepanjang tahun.
m Monsoon,dengan musim kering pendek,dan sisanya hujan lebat sepanjang tahun.
w Hujan musim panas
S Kondisi kering pada musim panas
W Kondisis kering pada musim dingin
Jenis Iklim Ciri-ciri iklim
a Musim panas terik, suhu rata-rata bulan terpanas > 22゜C
b Musim panas yang panas, suhu rata-rata bulan terpanas <22゜C
c Musim panas yang sejuk dan pendek, rata-rata kurang dari 4 bulan memiliki suhu > 10゜C
d Musim dingin yang sangat dingin, suhu rata-rata bulan terdingin < -3゜C
h Terik, suhu tahunan rata-rata > 18 ゜C
k Sejuk, suhu tahunan rata-rata < 18 ゜C
Jenis Iklim Thornthwaite (1933)
Pembagian daerah berdasarkan suhu
Lambang Ciri-ciri iklim Karakteristik Tanaman Indeks P-E
A Basah Hutan Hujan >128
B Lembap Hutan 64-127
C Kurang lembap Padang rumput 32-63
D Agak kering Stepa 16-31
E Kering Gurun <16
Lambang Ciri-ciri iklim Indeks T-E
A` Tropis >128
B` Mesotermal 64-127
C` Mikrotermal 32-63
D` Taiga 16-31
E` Tundra <16
F` Salju
—————————————
Contoh klasifikasi iklim:
BA`: iklim tropis lembab
BB` :iklim mesotermal lembap
CA`:iklim tropis kurang lembap
DA`:iklim tropis agak kering
DB`:iklim mesotermal agak kering
hhhhhhhh
Iklim Schmidt & Feguson
Menggunakan kriteria bulan sebagai berikut:
Bulan Curah hujan
Basah > 100 mm
Lembap 60-100 mm
Kering < 60 mm
Dengan menggunakan persamaan:
Q = jumlah rata-rata bulan kering
Jumlah rata-rata bulan basah
Tahapan menghitung Q:
1. Menghitung jumlah bulan kering dan bulan basah tiap tahun
2. Menjumlahkan hasil no.1 dalm suatu periode (misal 30 tahun)
3. Menghitung nilai Q
Lambang Iklim Nilai Q
A (Sangat Basah) < 0.143
B (Basah) 0.144-0.333
C (Agak Basah) 0.334-0.600
D (Sedang) 0.601-1
E (Agak Kering) 1.001-1.670
F (Kering) 1.671-3
G (Sangat Kering) 3.001-7
H (Sangat Kering Sekali)

Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.
Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan.
Daftar isi
[sembunyikan]
• 1 Sumber
• 2 Pembentukan hujan asam
• 3 Sejarah
• 4 Metode Pencegahan
• 5 Pranala luar

[sunting] Sumber
Secara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dari proses biologis di tanah, rawa, dan laut. Akan tetapi, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas manusia seperti industri, pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor dan pabrik pengolahan pertanian (terutama amonia). Gas-gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer di atmosfer sebelum berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah.
Hujan asam karena proses industri telah menjadi masalah yang penting di Republik Rakyat Cina, Eropa Barat, Rusia dan daerah-daerah di arahan anginnya. Hujan asam dari pembangkit tenaga listrik di Amerika Serikat bagian Barat telah merusak hutan-hutan di New York dan New England. Pembangkit tenaga listrik ini umumnya menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya.


Proses yang terlibat dalam pemecahan Asam ( catatan: bahwa hanya SO2 dan NOX memegang peran penting dalam hujan asam).
[sunting] Pembentukan hujan asam
Secara sedehana, reaksi pembentukan hujan asam sebagai berikut:

Bukti terjadinya peningkatan hujan asam diperoleh dari analisa es kutub. Terlihat turunnya kadar pH sejak dimulainya Revolusi Industri dari 6 menjadi 4,5 atau 4. Informasi lain diperoleh dari organisme yang dikenal sebagai diatom yang menghuni kolam-kolam. Setelah bertahun-tahun, organisme-organisme yang mati akan mengendap dalam lapisan-lapisan sedimen di dasar kolam. Pertumbuhan diatom akan meningkat pada pH tertentu, sehingga jumlah diatom yang ditemukan di dasar kolam akan memperlihatkan perubahan pH secara tahunan bila kita melihat ke masing-masing lapisan tersebut.
Sejak dimulainya Revolusi Industri, jumlah emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida ke atmosfer turut meningkat. Industri yang menggunakan bahan bakar fosil, terutama batu bara, merupakan sumber utama meningkatnya oksida belerang ini. Pembacaan pH di area industri terkadang tercatat hingga 2,4 (tingkat keasaman cuka). Sumber-sumber ini, ditambah oleh transportasi, merupakan penyumbang-penyumbang utama hujan asam.
Masalah hujan asam tidak hanya meningkat sejalan dengan pertumbuhan populasi dan industri tetapi telah berkembang menjadi lebih luas. Penggunaan cerobong asap yang tinggi untuk mengurangi polusi lokal berkontribusi dalam penyebaran hujan asam, karena emisi gas yang dikeluarkannya akan masuk ke sirkulasi udara regional yang memiliki jangkauan lebih luas. Sering sekali, hujan asam terjadi di daerah yang jauh dari lokasi sumbernya, di mana daerah pegunungan cenderung memperoleh lebih banyak karena tingginya curah hujan di sini.
Terdapat hubungan yang erat antara rendahnya pH dengan berkurangnya populasi ikan di danau-danau. pH di bawah 4,5 tidak memungkinkan bagi ikan untuk hidup, sementara pH 6 atau lebih tinggi akan membantu pertumbuhan populasi ikan. Asam di dalam air akan menghambat produksi enzim dari larva ikan trout untuk keluar dari telurnya. Asam juga mengikat logam beracun seperi alumunium di danau. Alumunium akan menyebabkan beberapa ikan mengeluarkan lendir berlebihan di sekitar insangnya sehingga ikan sulit bernafas. Pertumbuhan Phytoplankton yang menjadi sumber makanan ikan juga dihambat oleh tingginya kadar pH.
Tanaman dipengaruhi oleh hujan asam dalam berbagai macam cara. Lapisan lilin pada daun rusak sehingga nutrisi menghilang sehingga tanaman tidak tahan terhadap keadaan dingin, jamur dan serangga. Pertumbuhan akar menjadi lambat sehingga lebih sedikit nutrisi yang bisa diambil, dan mineral-mineral penting menjadi hilang.
Ion-ion beracun yang terlepas akibat hujan asam menjadi ancaman yang besar bagi manusia. Tembaga di air berdampak pada timbulnya wabah diare pada anak dan air tercemar alumunium dapat menyebabkan penyakit Alzheimer.
[sunting] Sejarah
Hujan asam dilaporkan pertama kali di Manchester, Inggris, yang menjadi kota penting dalam Revolusi Industri. Pada tahun 1852, Robert Angus Smith menemukan hubungan antara hujan asam dengan polusi udara. Istilah hujan asam tersebut mulai digunakannya pada tahun 1872. Ia mengamati bahwa hujan asam dapat mengarah pada kehancuran alam.
Walaupun hujan asam ditemukan di tahun 1852, baru pada tahun 1970-an para ilmuwan mulai mengadakan banyak melakukan penelitian mengenai fenomena ini. Kesadaran masyarakat akan hujan asam di Amerika Serikat meningkat di tahun 1990-an setelah di New York Times memuat laporan dari Hubbard Brook Experimental Forest di New Hampshire tentang of the banyaknya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh hujan asam.
[sunting] Metode Pencegahan
Di Amerika Serikat, banyak pembangkit tenaga listrik tenaga batu bara menggunakan Flue gas desulfurization (FGD) untuk menghilangkan gas yang mengandung belerang dari cerobong mereka. Sebagai contoh FGD adalah wet scrubber yang umum digunakan di Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. Wet scrubber pada dasarnya adalah tower yang dilengkapi dengan kipas yang mengambil gas asap dari cerobong ke tower tersebut. Kapur atau batu kapur dalam bentuk bubur juga diinjeksikan ke ke dalam tower sehingga bercampur dengan gas cerobong serta bereaksi dengan sulfur dioksida yang ada, Kalsium karbonat dalam batu kapur menghasilkan kalsium sulfat ber pH netral yang secara fisik dapat dikeluarkan dari scrubber. Oleh karena itu, scrubber mengubah polusi menjadi sulfat industri.
Di beberapa area, sulfat tersebut dijual ke pabrik kimia sebagai gipsum bila kadar kalsium sulfatnya tinggi. Di tempat lain, sulfat tersebut ditempatkan di land-fill.





.1)




A. Kemarau B. hujan C. dingin D. angin E. semi

No comments:

Post a Comment